Sunday, 3 February 2013

Kategori: , ,

Surat Cinta Untuk Ibu

Surat Cinta Untuk Ibu


                                                                                                    Banda Aceh, 20 Desember 2011
Surat Cinta untuk Ibu
Salam Rindu dan Sejahtera Untukmu…
Semoga Allah selalu melindungimu dengan cintanya.

Hawa dingin berhembus di kota pelajar yang saat ini merupakan tempatku untuk sementara, tempatku menyelesaikan sekolah demi mendapatkan gelar sarjana. Saat ini aku tercatat sebagai mahasiswa semester VII yang akan menggarap skripsi di perguruan tinggi negeri yang dijuluki dengan Jantong Hate Rakyat Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala.

Waktu demi waktu bergulir seperti kelereng yang dilepas dari tangan seseorang. Rasa-rasanya waktuku di sini semakin terpenggal. Keadaan ini membuatku sangat sedih. Aku takut jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilku dan sampai saat itu aku belum bisa membahagiakan seseorang yang telah menjadikan aku ada di dunia ini atas izin yang di atas. Aku takut tidak bisa menjadi yang dia inginkan.

Masih terasa hangatnya dekapan cinta yang ia berikan saat aku belum tahu apa-apa. Saat aku masih terbaring mungil di atas kasur kecil dan bantal imut dengan balutan selimut tebal, dia menjagaku siang dan malam hingga hari berganti minggu menjadi bulan dan berganti tahun. Lambat laun aku tumbuh menjadi gadis yang cantik menurutnya, berkulit sawo matang, punya bola mata yang indah, hidung yang mungil, bibir yang senyumnya manis, dan rambut yang lebat.

Dia sebagai nafas dan darahku dan dia  adalah kau, Ibu.
Setiap malam, kau menidurkanku dengan mesra sambil menuturkan harapan-harapanmu. Jika aku sudah bangun, kau memandikanku, mengenakan baju bagus di tubuhku, selalu mengepang rambutku. Hal itu selalu kau lakukan dan kau baru berhenti ketika aku sudah mandiri. Namun, kau masih saja memanjakanku.

Selama itu juga kau selalu mengajariku menulis, membaca hingga aku tumbuh menjadi anak yang pintar. Amak… (sebutan manjaku untuknya) aku masih ingat saat kau menyekolahkanku ke SD yang tak jauh dengan rumah, saat itu kepala sekolah tidak mau menerimaku dengan alasan umurku yang belum enam tahun. Saat itu aku menangis keras di halaman mesjid di samping sekolah tersebut. Saat itu kau berkata, “Jangan menangis Nyak, walau tak diterima di sekolah, mak tetap akan selalu mengajarimu di rumah”. Aku tetap saja menangis di halaman mesjid. Tiba-tiba datanglah seorang wanita berumur 40, dia adalah kepala sekolah di salah satu SD yang juga tak jauh dengan rumahku. Dia bertanya, “Mengapa menangis?”. Lalu Ibu menjawab, “Tidak diterima di sekolah karena belum cukup umur.”  “Ya sudah jangan menangis lagi, ikut ke sekolah ibu saja.” Lanjut wanita yang baik hati itu. Aku dan Amakku sangat bahagia. Akhirnya, aku pun diterima di sekolah lain walau umurku baru lima tahun.

Aku tahu Mak, kau begitu menyayangiku, apapun yang aku minta selalu kau penuhi. Aku juga masih ingat Mak saat aku bergabung dalam grup Tari. Hari itu aku akan tampil di acara pesta pernikahan di kampung kita. Setelah dirias dan memakai baju tari, bunga yang melilit di sanggulku hilang. Engkau panik dan sibuk mencarinya, engkau tidak mau aku tampil tidak sempurna seperti anak-anak lainnya sampai-sampai dalam waktu 30 menit itu kau pergi ke pasar untuk membelikan yang baru padahal rumah kita sangat jauh dengan keramaian pasar. Akan tetapi, hanya demi aku kau rela mencarinya ke sana ke mari.
Pengorbananmu tetap tersalurkan, berlanjut, tak pernah putus hingga masa anak-anakku berganti remaja. Aku juga masih ingat Mak, kau selalu menyiapkan sarapan untukku bahkan kau meyiapkan bekal untukku ke sekolah jika terkadang ada pelajaran tambahan  di sekolah.
Hal tersebut tetap saja kau lakukan walau anakmu bukan hanya aku. Aku juga masih ingat saat kau menyiapkan bekal ketika aku akan balik ke kota ini. Kau siapkan segalanya dengan waktu yang tergesa-gesa, kau begitu sibuk, kau begitu perhatian, sampai-sampai kau tak peduli pada kesehatanmu. Kau bekerja membanting tulang, mencari uang seribu dua ribu, kau membantu ayah mencari nafkah.

Aku masih ingat Mak… saat aku duduk di bangku SMP, setiap bulan Ramadhan kau tak pernah membangunkanku untuk membantumu memasak, menyiapkan sahur. Kau takut jika aku akan terkantuk-kantuk nantinya, kau takut mataku merah karena tak cukup tidur. Kau selalu membangunkanku ketika semuanya sudah siap bahkan hal seperti itu tetap saja berulang sampai aku sudah SMA. Begitu juga siangnya, kau tak pernah membiarkan aku di dapur bersamamu, kau tak ingin aku kelelahan atau tergoda melihat makanan, kau takut puasaku batal.
Kau adalah ibu rumah tangga yang sempurna, merangkap semua pekerjaan dan tugas; sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang guru, seorang wirausaha, seorang asisten rumah tangga, dll. Walaupun demikian, kau tak pernah mengeluh.

Akan tetapi, apa yang pernah kuberikan untukmu. Aku belum membalas satu pun pengorbananmu. Aku belum pernah membiarkanmu duduk bersantai di kursi kenyamanan sementara tugasmu biar aku yang kerjakan. Aku belum melakukan itu. Belum pernah memasak untukmu, melayanimu seperti kau melayani aku, mencuci bajumu, menyisir rambutmu, memberikan hadiah dengan hasil keringatku, atau cukup dengan membuatmu bahagia dengan melihat kesuksesanku. Entah kapan hal itu bisa kuwujudkan.

Masih banyak pengorbanan-pengorbanan lain yang tlah kau lakukan untukku dengan bercucuran keringat dan airmata. Satu tetes keringatmu adalah satu kebahagiaan untukku. Satu tetes airmatamu adalah seribu duka untukku.

Maafkan aku jika sampai saat ini aku belum bisa  membahagiakanmu, mewujudkan mimpimu untuk menjadi seorang dokter, seorang bidan, atau seorang perawat. Aku tidak bisa kuliah di tempat yang kau inginkan itu.

Maafkan aku juga Mak… jika selama ini terbersit dalam hatiku rasa kecewaku padamu. Aku sadar semua takdir di diriku bukan salahmu. Ini takdir yang di atas. Jika memang hal ini akan membuatku terpisah darimu begitu cepat, aku ikhlas.
Aku tak tahu sampai di mana waktuku
Mungkin buntu atau terputus
Satu keadaan menciptakan airmata di tengah tawa
Haruskah kuceritakan?
Jika nanti aku tlah tiada
Bukan berarti aku tidak memenuhi pintamu
Bukan berarti juga aku tak menepati janjiku
Hanya saja takdir berbicara lain
Biarlah kupenuhi  di surga nanti

Hanyalah satu dekapan mesra dan peluk ciummu yang masih hangat terasa saat kita terpisah sementara di November kemarin. Satu kalimat untukmu, “Aku mencintaimu di atas cintaku pada diriku.”

                                                                                                            Salam Ananda


                                                                                                     Nanda Roshita Rahman

Surat cinta ini tetap tertuju untukmu seorang, untuk sosok tercantik di istanaku di Aceh Utara sana. Semoga kau tersenyum membacanya karena kau tahu betapa aku mencintaimu dengan jarak. 

0 komentar:

Post a Comment

BERKOMENTAR SESUAI PERLUNYA. MEMPUNYAI PERTANYAAN ATAU PERMINTAAN, SILAHKAN KOMENTAR

Subscribe