Sunday, 29 September 2013

,

Makalah Dinamika Kelompok ( LENGKAP )

BAB I
PENDAHULUAN
    A.   LATAR BELAKANG.
1.    Pengertian dinamika
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) terus-menerus ada dalam kelompok itu, oleh karena itu kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah.
2.    Pengertian kelompok
Kelompok adalahkumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama. Menurut W.H.Y. Sprott mendefinisikan kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain.Kurt Lewin berpendapat ”the essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its members but their interdependence”. H. Smith menguraikan bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antar anggota kelompok dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok:
a.    Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut
b.    Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya
c.    Adanya saling menghargai pendapat anggota lain
d.    Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota kelompok
Menurut Reitz (1977) kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut:
·         Terdiri dari dua orang atau lebih
·         Berinteraksi satu sama lain
·         Saling membagi beberapa tujuan yang sama
·         Melihat dirinya sebagai suatu kelompok
Kesimpulan dari berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok adalah kelompok tidak terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

3.    Pengertian dinamika kelompok
Dinamika kelompok  merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama.  Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah. Dinamika kelompok mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
-           Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok terhadap anggota kelompok lain, sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai
-          Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati dan saling menghargai pendapat orang lain
-          Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok
-           Menimbulkan adanya i’tikad yang baik diantara sesama anggota kelompok.
Proses dinamika kelompok mulai dari individu sebagai pribadi yang masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, belum mengenal antar individu yang ada dalam kelompok. Mereka membeku seperti es. Individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mengenal individu yang lain. Es yang membeku lama-kelamaan mulai mencair, proses ini disebut sebagai “ice breaking”. Setelah saling mengenal, dimulailah berbagai diskusi kelompok, yang kadang diskusi bisa sampai memanas, proses ini disebut ”storming”. Storming akan membawa perubahan pada sikap dan perilaku individu, pada proses ini individu mengalami ”forming”. Dalam setiap kelompok harus ada aturan main yang disepakati bersama oleh semua anggota kelompok dan pengatur perilaku semua anggota kelompok, proses ini disebut ”norming”. Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai kegiatan, proses ini disebut ”performing”.

   B.   SEJARAH DINAMIKA KELOMPOK
Sejarah Dinamika Kelompok Sejarah munculnya dinamika kelompok dapat diuraikan sebagai berikut:
-          Zaman Yunani Pada masa ini berkembang ajaran Plato, bahwa daya-daya pada individu tercermin dalam struktur masyarakat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Masing-masing struktur masyarakat tersebut merupakan kelompok yang terpisah satu sama lain dan tiap-tiap golongan memiliki norma yang berfungsi sebagai pemersatu dan pedoman dalam interaksi sosial antar anggota masing-masing golongan. Pada masa ini ikatan persatuan dan interaksi sosial terjalin dengan kuat, sehingga masing-masing golongan dapat mempertahankan kesatuannya dan tidak terpecah-pecah dalam kelompok/golongan yang lebih kecil.

-          Zaman liberalisme Pengaruh cara berfikir bebas mengakibatkan individu bebas menentukan segala sesuatu bagi dirinya dan tiap individu tidak bisa menetukan individu lain dalam kehidupan. Kebebasan ini justru membawa malapetaka pada individu, karena individu merasa tidak mempunyai pedoman dalam kehidupan, sehingga mereka merasa tidak memiliki kepastian. Kondisi tersebut membuat individu merasa ketakutan, sehingga berbagai cara mereka tempuh untuk untuk menghilangkan ketakutan dan memperoleh pedoman dalam menjalani hidup. Gagasan individu yang muncul pada saat itu adalah mengadakan perjanjian social antara sesamanya dan hal tersebut dirumuskan dalam Leviathan atau Negara yang diharapkan dapat menjamin hidup mereka.

-          Zaman ilmu jiwa bangsa-bangsa Pada masa ini Moritz Lazarus dan Stanley Hall memelopori untuk mengadakan suatu penyelidikan terhadap bangsa primitive yang memiliki ciri khas di dalam kehidupannya. Penyelidikan dilakukan terhadap adat dan bahasa rakyat dan hubungannya dengan tingkah laku masyarakat primitif. Hasil penyelidikan, pengaruh adat dan bahasa menimbulkan homogenitas pada masyarakat sehingga setiap sikap dan tingkah laku anggota masyarakat tidak berbeda satu sama lain. Hal ini disebabkan karena adat dan bahasa rakyat menimbulkan kesamaan psikologi, dan ini tercermin dalam tingkah laku. Terori ini berkembang, bahwa setiap masyarakat yang mempunyai kesamaan psikologi menjadi suku bangsa tertentu, lengkap dengan kepribadian masing-masing.

-          Zaman gerakan massa Adanya bentuk pemerintahan otokrasi dengan segala bentuk penekanannya mengakibatkan masyarakat menunjukkan pergolakan untuk membebaskan diri dan membentuk pemerintahan yang diinginkan. Gerakan massa ini mendorong Gustave Le Bon melakukan penyelidikan secara intensif dan mendalam pada gerakan massa. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa dalam gerakan massa tiombul apa yang dinamakan sugesti, yang mengakibatkan gerakan massa tersebut dala setiap individu kehilangan control diri terhadap mereka. Apabila ditinjau, massa yang memiliki gerakan sedemikian hebat, tentu massa tersebut mempunyai anggota, norma, pimpinan dan tujuan yang hal ini tidak ubahnya seperti bentuk suatu kelompok.

-          Zaman psikologi sosial Penyelidikan terhadap massa memberikan motivasi kepada ahli untuk mengadakan penyelidikan lebih mendalam terhadap massa, meskipun risikonya besar. Pada abad ke-20, para ahli mengubah arah penyelidikannya dan mereka lebih tertarik untuk mengadakan penyelidikan terhadap gejala-gejala psikis dalam situasi tertentu. Edward A. Ross mengadakan penyelidikan terhadap hubungan psikis antara individu dengan lingkungannya. Dalam meninjau situasi sosial maka situasi tersebut adalah situasi yang mengakibatkan berkumpulnyasejumlah individu pada saat tertentu. Hal ini tidak berbeda dengan anggapan bahwa situasi sosial berarti membawa pula adanya kelompok.

-          Zaman dinamika kelompok Erich Fromm mengawali kegiatan penyelidikannya yang disusun dalam buku Escape From Freedom untuk menunjukkan perlunya individu bekerja sama dengan individu lain, hingga timbul solidaritas dalam kehidupannya. Hal ini disebabkan karena terdorong oleh adanya keinginan individu untuk memperoleh kepastian dalam kehidupan ketika hasrat kepastian ini hanya diperoleh apabila masing-masing individu memiliki rasa solidaritas. Moreno mengemukakan bahwa perlunya kelompok-kelompok kecil seperti keluarga, regu kerja, regu belajar, ketika di dalam kelompok itu terdapat suasana saling menolong, hingga kohesi menjadi kuat, dan kelompok yang makin kuat kohesinya, makin kuat moralnya. Kurt Lewin menyimpulkan bahwa tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh kelompok yang menjadi anggotanya. Jadi jelaslah bahwa kelompok itu memang benar-benar mempunyai pengaruh terhadap kehidupan individu.








    C.   TUJUAN
 Adapun tujuan dari Dinamika kelompok ini dapat diartikan sebagai gambaran  yang diharapkan anggota yang akan dicapai oleh kelompok. Tujuan kelompok harus jelas dan diketahui oleh seluruh anggota. Untuk mencapai tujuan kelompok tersebut diperlukan aktivitas bersama oleh para anggota. Hubungan antara tujuan kelompok dengan tujuan anggota bisa :
a). Seluruhnya bertentangan
b). Sebagian bertentangan
c.). Netral
d). Searah
e). Identik
Dengan demikian bentuk hubungan a tidak menguntungkan dan bentuk hubungan d adalah yang paling baik. Tujuan kelompok dirumuskan sebagai perpaduan dari tujuan individu dan tujuan semua anggota kelompok.
Tujuan kelompok yang efektif harus mempunyai aspek-aspek sebagai berikut :
o   Dapat didefinisikan secara operasional dapat diukur dan diamati
o   Mempunyai makna bagi anggota kelompok,relevan, realistis dapat diterima dan dapat dicapai
o   Anggota mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telahditetapkan
o   Adanya keseimbangan tugas dan aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan kelompok
o   Bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
o   Adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
o   Berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok

    D.   STATUS DINAMIKA KELOMPOK
Dalam hal ini, Dinamika Kelompok di bagi ke dalam 4 Status, dan ke empat status itu ialah :
1.    Cabang Sosiologi
Para ahli psikologi seperti Slomans, Moreno, dan Mitschell berpendapat bahwa “masalah kelompok/group dan struktur kelompok yang menjadi obyek dinamika kelompok merupakan sebagian bahan yang menjadi obyek sosiologi.
Seperti Moreno yang berpendapat bahwa didalam suatu kelompok pasti terdapat social distance/jarak sosial antara anggota kelompok tersebut. Hal ini terdapat pada arah pilihan, sikap, isolasi, keakraban antara masing-masing anggota.

2.    Cabang Psikologi
Robert F. Bales memasukkan Dinamika Kelompok kedalam cabang sosiologi karena didalam dinamika kelompokok titik beratnya bukan masalah kelompok itu sendiri tetapi yang pokok adalah proses kejiwaan yang terjadi/ timbul pada individu dan pengeruhnya kepada kelompok. 

3.    Cabang Psikologi Sosial
Otto Klineberg berpendapat bahwa dinamika kelompok lebih ditekakan kepada peninjauan Psikologi sosial karena yang terpenting sampai sejauh mana pengaruh interaksi sosial individu didalam kelompok terhadap masin-masing individu sebagai anggota suatu kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika kelompok mempelajari hubungan timbale alik antara anggota didalam kehidupan berkelompok.

4.     Bidang Eksperimen
Di dalam buku “Group Dinamic” disebutkan bahwa dinamika kelompok sebenarnya adalah bidang eksperimen, walaupun sifatnya cenderung mengarah kepada bidang psikologi. Zender mengungkapkan bahwa perkembangan alam demokrasi akan lebih menjamin kepentingan hak individu, sehingga makin besar perkembangan demokrasi makin pesat pula perkembangan indvidu.

    E.   PENDEKATAN DINAMIKA KELOMPOK MENURUT BALES
Dalam hal ini Balles mengatakan bahwa  Pendekatan ini mendasarkan pada konsep  adanya aksi, interaksi, dan situasi yang ada dalam kelompok. Homans menambahkan, dengan adanya interaksi  dalam kelompok, maka kelompok yang bersangkutan merupakan sistem interdependensi, dengan sifat-sifat:
-          Adanya stratifikasi kedudukan warga
-          Adanya diferensiasi dalam hubungan dan pengaruh antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain
-          Adanya perkembangan pada sistem intern kelompok yang diakibatkan adanya pengaruh faktor-faktor dari luar.







BAB II
PEMBAHASAN

     A.   PENGARUH KELOMPOK SOSIAL TERHADAP PERSEPSI INDIVIDU
1.    Evolusiosis / Prosesual
Adalah melihat gejala sosial atau kelompok dari sudut perkembangannya melalui :
a.    Kapan kelompok terbentuk.
b.    Apa sassaran terbentuk kelompok tersebut.
c.    Sifat keanggotannya
d.    Cara pembentukkan kelompok tersebut.
2.     Interaksionis
Adalah melihat interaksi antar individu sebagai anggotanya, sehingga dapat diketahui situasi individu, dalam pelaksanaan interaksinya :
a.    Interaksi dalam keluarga
b.    Interaksi dalam Kerja
c.    Interaksi dalam Masyarakat
Ketiga interaksi tersebut menghasilkan pengaruh kelompok terhadap individu, sehingga apa reaksi individu terhadap pengaruh tersebut dalam proses pembentukkan kepribadian.
3.    Proses Sosialisasi
3.1 Fungsionalis adalah kelompok dilihat sebagai suatu jaringan individu yang bekerja sama secara terorganisasir menurut norma-norma sehingga anggota dapat terkendali yang meliputi cara-cara kelompok sosial dalam mengatur tindakan-tindakan anggotanya, contoh: hukuman, penghargaan, penyimpangan.
3.2 Konflik/ Pertentangan adalah kelompok dilihat sebagai suatu hal yang memiliki pertentangan-pertentangan dan sebagai pengeraknya adalah asana individu-individu dominan, contoh: Penguasa – yang dikuasai, Majikan -- Buruh.
3.3 Perbandingan adalah setiap kelompok memiliki karakteristik, sehingga antar kelompok dapat di perbandingan, guna dicari persamaan dan perbedaanya, contoh: Politik – Partai-partai politik, Profesi – Pegawai negeri – Pegawai Swasta.  



    B.   FAKTOR-FAKTOR PENGARUH KELOMPOK SOSIAL
1.    Faktor INTEGRASI INTERNAL, EKSTERNAL, VERTIKAL, DAN HORIZONTAL Menurut Soerjono Soekanto menyebutkan:
a)      Integrasi Internal, yakni proses integrasi dengan cara menyatukan anggota-anggota dalam satu kelompok.
b)      Integrasi Eksternal, yaitu proses integrasi dengan cara menyatukan berbagai macam kelompok ke dalan suatu kelompok yang lebih besar atau suatu masyarakat. Misalnya: Organisasi kecil ke organisasi Besar.
c)       Integrasi Vertikal, yaitu proses integrasi dengan cara melakukan pengendalian tunggal terhadap beraneka ragam individu atau kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan-perbedaan.
d)      Integrasi Horizontal, yaitu proses integrasi dengan cara melakukan pengendalian tunggal terhadap beraneka ragam individu atau kelompok yang memiliki persamaan- persamaan. Misalnya: Kelompok pelajar dan kelompok seni.

2.    Faktor  INTEGRASI INSTUMENTAL DAN IDEOLOGIS
a)      Integrasi Instrumental, yaitu integrasi yang tampak secara visual (tampak) dari adanya ikatan-ikatan social di antaranya individu-individu di dalam masyarakat. Integrasi instrumental memiliki ciri- cirri sebagai berikut:
1)      Adanya norma atau kepentingan tertentu sebagai pengikat.
2)      Adanya keseragaman aktifitas keseharian.
3)      Adanya keseragaman pakaian
4)      Adanya tujuan tertentu yang disesuaikan dengan kepentingan kelompok.

b)      Integrasi Ideologis, yaitu integrasi yang terbentuk karena adanya ikatan spiritual (Odeologis) yang kuat dan mendasar melalui proses alamiah tanpa adanya suatu ikatan tertentu. Memiliki cirri-ciri:
1)      Adanya persamaan nilai-nilai yang mendasar yang terbentuk atas kehendak sendiri.
2)      Adanya persamaan persepsi
3)      Adanya persamaan orientasi kerja diantara anggota-anggotanya
4)      Adanya tujuan yang sama

            3.  Faktor  Integrasi aspek fisik, psikis, hubungan social dan proses
a)      Aspek Fisik, dilihat dari aspek fisik atau wadahnya, integrasi social bisa berbentuk organisasi atau paguyuban.
b)      Aspek Psikis, ditandai dengan adanya kesadaran diri dari setiap orang yang menyatukan diri dalam suatu wadah tertentu sehingga mereka menjadi bagian yang utuh, merasa memiliki, dan mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan bersama.
c)       Aspek Hubungan Sosial, integrasi social bukan hanya ditandai dari intensitas (khusus) dalam berkomunikasi tetapi intensitas dalam bekerja sama dan bergotong royong untuk memecahkan masalah-masalah guna memenuhi kebutuhan bersama.
d)      Aspek Proses, integrasi social tidak dapat terjadi seketika tetapi melalui proses panjang dan rumut karean membutuhkan waktu dan prosedur tertentu.

            4.   Faktor Pendorong Integrasi antar Kelompok Sosial
A.       Faktor internal, yakni factor pendorong yang berasal dalam kelompok. Faktornya:
1)      Kesadaran diri sebagai makhluk social yaitu makhluk yang selalu hidup bersama
2)      Tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat
3)       Jiwa dan semangat gotong royong

B.       Faktor Eksternal, yakni factor pendorong yang berasal dari luar kelompok. Faktornya:
1)      Tuntutan perkembangan jaman
2)      Persamaan kebudayaan
3)       Terbukanya kesempatan
4)      Persamaan visi, misi, dan tujuan
5)      Sikap menghargai atau toleransi terhadap kelompok lain
6)       Adanya consensus nilai-nilai antar kelompok social
7)      Adanya tantangan dari luar

5.      Faktor Pendukung Integrasi antar Kelompok Sosial, untuk bangsa Indonesia factor pendukungnya yakni:
1.       Penggunaan Bahasa Indonesia
2.       Semangat persatuan dan kesatuan
3.       Ideologi Pancasila
4.       Jiwa dan semangat gotong royong, toleransi beragama, solidaritas
5.       Senasib akibat penjajahan
6.    Keberhasilan Integrasi antar Kelompok Sosial
1.       Setiap anggota masyarakt dapat memenuhi kebutuhan pokoknya
2.       Telah dicapai consensus (perjanjian) bersama mengenai nilai norma dasar
3.       Nilai atau norma tersebut telah hidup dan berkembang dalam waktu yang lama dan konsisten
4.       Nilai atau norma tersebut diamalkan dan dijadikan pedoman
5.       Individu atau kelompok saling menyesuaikan diri satu sama lain.
6.       Selalu menempatkan persatuan dan kesatuan serta keselamatan kelompok di atas kepentingan pribadi.

    C.   PENGARUH SOSIAL TERHADAP SIKAP MAYORITAS
Sebagai seorang individu, kita bebas berpikir dan berperilaku sesuai dengan keinginan kita. Namun, jika kita menjadi anggota dalam sebuah kelompok, hal itu hampir tidak mungkin terjadi karena secara tidak langsung kita pasti akan menyesuaikan/terpengaruh dengan anggota kelompok yang lain dalam mengambil sebuah keputusan, atau menjawab sesuatu. Seperti cerita tentang Corona tadi, bahwa sebenarnya 4 juri awalnya tidak setuju bahwa Corona bersalah, namun seiring berjalannya waktu, satu persatu dari mereka mengubah pendapatnya (Corona bersalah).



1.     Pengaruh Mayoritas

Kelompok mempengaruhi anggotanya. Prinsip inilah yang dipegang oleh dinamika kelompok. Peneliti lain, seperti Sherif dan Newcomb, setuju dengan prinsip tersebut setelah mereka menemukan bahwa sikap dan outlook orang-orang berubah ketika sikap dan outlook kelompoknya juga berubah. Namun Asch juga menyumbang prinsip lain dari pengaruh kelompok dengan melakukan penelitian tentang konformitas ini. Orang-orang yang diteliti oleh Asch mengira bahwa mereka sedang mengikuti tes akuisi visual, karena Asch menyodorkan gambar garis-garis lurus horizontal. Ketika ada 1 orang di antara mereka menjawab salah, 37% dari partisipan tersebut memberikan jawaban salah. Asch menyadari bahwa ini disebabkan karena pengaruh mayoritas.

2. Keseragaman Suara (Unanimity and Conformity)
Pada hari keenam perundingan keputusan kasus Corona, 9 juri menganggap Corona bersalah, dan 3 lainnya tidak. Naomi (salah satu juri) satu-satunya juri yang tidak setuju bahwa Corona bersalah, ia berharap juri lain beranggapan sama dengannya. Namun, ketika voting kembali diadakan pada hari itu, 11 orang menganggap corona bersalah dan hanya Naomi lah yang menganggap Corona tidak bersalah. Lalu pada voting berikutnya, ia secepatnya memutuskan bahwa Corona bersalah.
Pertama, kekuatan mayoritas akan melemah ketika kebulatan suara tidak dapat dipertahankan. Kebanyakan anggota kelompok berpikir bahwa kelompoknya akan berpikir bahwa ia aneh dan irasional ketika keputusannya berbeda dari yang lain. Kedua, ketika orang menghadapi pengaruh tekanan kelompok yang terlalu besar. Ketiga, semakin besar ukuran dari koalisi minoritas, maka semakin kecil koalisi mayoritas. Lima orang yang bersatu melawan satu orang jauh lebih kuat daripada empat orang yang bersatu melawan dua orang.
3.    Kekuatan Jumlah
Dalam hal pengaruh social, ukuran/jumlah bias mengakibatkan suatu perubahan tertentu. Berdasarkan penelitian Asch pada 17 orang, beberapa dari mereka melakukan konformitas ketika ada 1 orang yang tidak setuju pada pendapat mereka. Ketika subjek menghadapi 2 lawan, konformitas meningkat hingga 13,6%, dan ketika 3 lawan 1 maka konformitas meningkat hingga 31,8%. Menurut Asch, konformitas jarang terjadi jika kurang dari 3-4 orang.

4.    Kepatuhan
Kepatuhan adalah perubahan yang terjadi saat target dari pengaruh social pura-pura/secara public menyetujui si influencer (orang yang mempengaruhinya), padahal ia pribadi sebenarnya tidak setuju dengannya. Contohnya Naomi, ia sebenarnya tidak setuju bahwa Corona bersalah namun karena keadaan bahwa ia satu-satunya yang memiliki pendapat berbeda, akhirnya ia mengubah opininya di hadapan juri lain walau dirinya tidak setuju sepenuhnya bahwa Corona bersalah.
Pada penelitian, anggota kelompok menyatakan pendapat mereka secara terbuka, sehingga  tekanan untuk melakukan kepatuhan pun meningkat. Sedangkan pada percobaan Crutchfield yang dikenal sebagai Crutchfield Apparatus, tekanan tersebut berubah menjadi ‘conversion’ / konversi karena anggota kelompok tidak menyatakan pendapat mereka secara public, tetapi secara pribadi walau pada waktu yang bersamaan.




5.    Limits to Majority Influence
Batas pengaruh mayoritas dapat dibagi menjadi beberapa hal yaitu kesesuaian budaya dan era sekarang hal ini menyangkut kehidupan yang menjadi trend pada zaman atau saat ini yang dianggap banyak menjadi perbincangan atau gaya hidup masyarakat, hal tersebut relatif bagi sebagian orang yang kadang masih berpegang teguh pada budaya lama atau kebiasaan yang dia jalani.

 Kesesuaian jenis kelamin yang hal ini berbeda antara laki-laki dan perempuan yang mana hal tersebut dapat menjadi batas jika sebuah konformitas dilakukan contohnya jika ada suatu benda yang menyangkut gaya pada sebuah trend yang selayaknya diperuntukan kepada laki-laki atau perempuan saja maka hal ini menjadi batasyang nyata. Kesesuaian yang menyangkut seluruh orang yang kadang membuat kita ingin di akui sebagai bagian dari kelompok atau perkumpulan yang ada. Semua yang telah dilakukan pasti ada mempunyai pengaturan terlebih dalam sebuah tugas hal ini menjadikan sebuah identitas yang mana ini harus di ikuti oleh orang-orang yang ada di dalamnya.

 Pengaruh minoritas ini bisa di contohkan dengan konsistensinya dalam suatu rapat yang mana hal ini menjadi pertimbangan semua orang pada kegiatan tersebut,status minoritas juga dipertimbangkan dalam hal ini contoh jika dia tidak menyetujui satu keputusan-keputusan dengan alasan yang masuk akal dan berbobot dan pantas dapat dipertimbangkan hal itu dapat menjadi pengaruh untuk mayoritas.

Complience atau kesepakatan dimana hal ini dapat mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan tetapi ini dapat dilawan dengan sebuah perubahan atau conversion,hal ini bisa menjadi penyebab berubahnya suatu keputusan dalam kelompok karena adanya pengaruh yang datang
Dari beberapa sisi dapat dipandang yang kita ketahui pengaruh sosial mempunyai dampak yang besar terutama dalam kelompok atau suatu kalangan baik minoritas atau mayoritas yang ada disekitar kita, entah dalam suatu kelompok peer-group atau resmi seperti kelompok rapat dan lain-lain.






















BAB III
PENUTUP

    A.   KESIMPULAN
Kelompok sosial adalah kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.Interaksi sosial dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat Manusia dan menimbulkan suatu proses interaksi sosial manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain.Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam yaitu contoh masalah sosial dalam masyarakat.

    B.   SARAN
     Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karna kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya.


DAFTAR PUSTAKA





  



Subscribe