Wednesday, 12 June 2013

Kategori:

Sebuah cerita simpel tapi mengharukan….(siapapun boleh nangis kok)

Ini yang kadang kadang bikin ane sesalin dalam hidup gw
Sebuah cerita simpel tapi mengharukan….
Mari kita simak bareng bareng ya, siap….jreng….jreng..jreng……Action!!
“Seorang pria paruh baya sedang duduk di bangku halaman rumah bersama putranya yang telah dewasa. Lalu seekor burung merpati hinggap di dekat bangku mereka.
“Apa itu?” tanya pria tersebut pada sang anak.
“Merpati”, jawab sang anak yang sedang membaca surat kabar, singkat.
Lalu seekor merpati lain hinggap di dekat mereka.

“Apa itu?” pria tersebut bertanya lagi.
“Itu merpati, ayah…!” jawab sang anak sambil memandang ayahnya, seolah tak percaya ayahnya bertanya hal seperti itu.

Dan seekor merpati lagi hinggap.
“Apa itu?” kembali pria tersebut bertanya.
“Ayah! Apa sebenarnya maksud ayah? Sudah jelas itu burung merpati, siapapun tahu, termasuk ayah juga! Apakah ayah hendak membuatku kesal???” sang anak mulai hilang kesabaran.

Pria itu lalu berdiri dan beranjak pergi.
“Mau kemana?” tanya sang anak.
Pria itu hanya memberi isyarat bahwa ia akan segera kembali. Ia lalu masuk ke rumah, lalu tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah jurnal dan kembali duduk di bangku tersebut. Ia membuka sebuah halaman pada jurnal tersebut dan menunjukkannya pada sang anak, memintanya untuk membaca tulisan pada halaman tersebut.
Di sudut atas halaman tersebut tertanda tanggal hari itu 25 tahun silam.

“Hari ini aku menemani putraku yang berusia 2 tahun bermain di halaman. Suatu ketika seekor merpati hinggap. Ia bertanya “Apa itu, ayah?”. Dan kujawab “Itu burung merpati, nak.” Lalu merpati lain hinggap, ia kembali bertanya, “Apa itu, ayah?”. Dan aku kembali menjawab “Itu juga burung merpati, nak…” Hari itu ada sekitar 38 merpati yang hinggap, dan ia terus bertanya “Apa itu, ayah?”, dan aku menjawab seluruhnya, 38 kali, sama seperti saat aku menjawab pertanyaannya yang pertama. Tanpa merasakan sedikitpun kekesalan, malah aku sangat bahagia menjawab pertanyaan-pertanyaannya.”
Entah kenapa ya kawan…
waktu kecil dulu kita sayang banget sama ortu kita
malah kita sendiri yang sangat butuhin ortu
dan kita bisa menangis karena ditinggal oleh orang tua
tetapi mereka selalu perhatian sama kita waktu kita menangis

waktu sudah dewasa ortu kita sayang sama kita dan bangga
tetapi karena kita dewasa kita jadi merasa gak butuh orang tua
dan terkadang pula orang tua kita menangis karena kita tinggal
tetapi kita terkadang tak memberikan perhatian ke mereka

renuungkan…
semoga kita menjadi orang yang dapat mengingat jasa orang tua kita… hikz hikz..huahuaaaaaaa (mas mas.. jangan akting deh, ini di masjid lho)hahahaha
Thanks to :Kaskus.com

0 komentar:

Post a Comment

BERKOMENTAR SESUAI PERLUNYA. MEMPUNYAI PERTANYAAN ATAU PERMINTAAN, SILAHKAN KOMENTAR

Subscribe