Showing posts with label EDUCATION. Show all posts
Showing posts with label EDUCATION. Show all posts

Thursday, 30 July 2015

, ,

Ini dia, cara menggambar binatang dengan angka

cara menggambar binatang dengan angka

cara ini sangat cocok untuk anda yang ingin mengajari anak anda untuk menggambar. tidak hanya menggambar. anda juga bisa mengenalkan angka-angka yang di pakai dalam ini. yok di intip


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download


klik gambar. terus download

sumber via facebook, di GAMBAR ulang oleh PODAN

silahkan di save, dan di cetak untuk belajar anak anda.:)
yok isi survey disini

Monday, 1 June 2015

, ,

Penyebab dan akibat pencemaran air dan cara penanggulangannya

    Penyebab Dan Akibat Pencemaran Air

a.       Penyebab.
Adapun penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan pencemaran pada air adalah sebagai berikut  :

1. Penyebab alami yang pada dasarnya tidak dapat dihindari oleh makhluk di bumi. Yakni meningkatnya kadar nutrien atau kandungan zat organik hasil pencernaan makhluk dan hasil metabolisme, hal ini yang nantinya akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi, proses ini terjadi dalam jangka waktu yang lama bahkan ribuan tahun. Jika air sudah tersedia saat terbentuknya bumi, maka saat ini mungkin sudah mencapai jutaan tahun. Pantaslah pencemaran air sudah terjadi di mana-mana.

2. Sampah organik dapat menjadi penyebab terjadinya pencemaran di air, sampah organik yang menumpuk diselokan-selokan akan menimbulkan cairan berbau yang lebih dikenal sebagai air comberan, dampaknya sangat buruh bagi kehidupan, hal ini bisa anda amati bahwa disekitar air comberan berada pasti disana sedikit bahkan tidak ada tumbuhan yang tumbuh apalagi ikan palingan cacing atau jentik nyamuk.

3. Limbah pabrik yang tidak disaring, limbah menjadi hal yang sangat menakutkan jika menyebar ke hulu air dan digunakan oleh manusia. Pencemaran Air oleh limbah sangat berbahaya karena mengandung banyak unsur kimia yang bukan hanya merusak organ dalam juga akan merusak bagian luar

4. Di daerah sungai, danau atau lautpun pencemaran air dapat terjadi oleh karena sebab manusia yang menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak. Unsur kandungan kimia di bahan peledak itu yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.

Setelah anda mengetahui penyebab dari pencemaran ini, maka andapun harus mengetahui akibat pencemaran air.


, ,

Apa itu penyakit zoonosa atau sering di sebut dengan penyakit zoonosis

     PENGERTIAN ZOONOSIS

Penyakit zoonosa adalah penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia dan sebaliknya dari manusia ke hewan. Penyakit zoonosa umumnya bersifat fatal dan dapat menimbulkan kematian. Kemunculan tak terduga dari penyakit zoonosa juga memunculkan istilah emerging zoonosis. Istilah ini dapat didefinisikan secara luas sebagai kejadian penyakit zoonosa dengan :
1) agen penyakit yang dikenal dan muncul pada area geografik yang berbeda.
2) agen penyakit telah dikenal atau kerabat dekatnya dan menyerang hewan yang sebelumnya tidak rentan
3) agen penyakit yang belum dikenal sebelumnya dan terdeteksi untuk pertama kalinya.
Sedangkan re-emerging zoonosis adalah penyakit zoonosa yang pernah mewabah dan sudah mengalamai penurunan intensitas kejadian namun mulai menunjukkan peningkatan kembali.
Penyakit zoonosa diklasifikasikan dalam beberapa kategori :
a.       Berdasarkan reservoir utama
-          Anthropozoonosis
-          Zooanthroponosis
-          Amphixenosis
b.      Berdasarkan agen penyebab
-          Virus                -  Chlamydia dan Ricketsia
-          Bakteri             -  Parasit
-          Jamur
c.       Berdasarkan cara penularannya
-          Zoonosis langsung
-          Siklo zoonosis
-          Meta zoonosis
-          Saprozoonosis


       MEKANISME PENULARAN PENYAKIT ZOONOSA

Reservoir alamiah dari  B. abortus  adalah sapi,  B. suis  adalah babi,  B. melitensis  adalah  kambing/domba. Inang alamiah dari B. canis adalah anjing dan B. ovis  adalah domba.

a)      Infeksi pada manusia
Manusia dapat terinfeksi secara langsung maupun tidak langsung melalui produk hewan seperti keju dan susu mentah ataupun lewat inhalasi agen melalui udara. Model transmisi dan alur penetrasi tergantung dari epidemiologi wilayah, hewan reservoir, dan kelompok pekerja yang terpapar. Terjadinya transmisi secara kontak diawali pada wilayah yang bersifat enzootik. Kelompok yang dianggap berisiko terkena adalah pekerja di RPH, pedagang, dan dokter hewan. Infeksi biasanya terjadi saat penanganan fetus atau kontak dengan sekresi vagina, ekskreta, dan karkas yang terinfeksi lalu mikroorganisme , serta melalui kulit yang luka/abrasi.

b)      Infeksi pada sapi
Sumber utama infeksi pada sapi adalah cairan fetus, sisa – sisa setelah melahirkan, dan cairan vagina. Jalur masuk utama infeksi pada sapi adalah melalui oral lewat (pakan dan air yang terkontaminasi), kulit yang luka, inhalasi, dan secara kongenital (fenomena laten) seperti dari induk ke fetus atau melalui air susu induk. Namun pada jalur kongenital masih harus dievaluasi lebih mendalam.

c)      Infeksi pada babi
Prinsip sumber infeksi sama seperti sapi. Rute infeksi melalui kontak seksual secara alamiah dimana pejantan yang terinfeksi brucellosis mengawini betina sehat, melalui rute oral (digesti) dari berbagai macam makanan yang diberikan kepada babi, secara inhalasi dan melaui konjungtiva.






       PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

Karena tidak efektifnya tindakan pengobatan, maka sangat disarankan tindakan pencegahan yang meliputi :
a)            Melakukan kontrol dan eradikasi terhadap hewan reservoir. Ternak yang didiagnosis brucellosis harus segera dipisahkan dipisahkan dan jika ada kejadian abortus, fetus, dan membran fetus harus segera dikirim ke laboratorium untuk diuji. Kemudain tempat didesinfeksi dan semua material terkontaminasi harus dibakar.

b)            Mengkonsumsi produk asal hewan yang higienis dan terjamin mutu seperti susu yang dipasteurisasi

c)            Menggunakan perlengkapan kerja sesuai standar keamanan dan bekerja dibawah pengawasan dokter hewan pada kelompok rawan infeksi seperti peternak sapi, pekerja RPH, dan dokter hewan itu sendiri.

d)           Vaksinasi kepada kelompok rawan tertular seperti dokter hewan, pekerja kandang, pemerah susu, dan pekerja di RPH.

e)            Vaksinasi pada daerah endemis (prevalensi <2%)  serta melakukan pengujian dan pemotongan (test and slaughter) pada daerah dengan prevalensi > 2%. Vaksin menggunakan strain 19 atau strain 45/20. Vaksinasi tidak berlaku untuk sapi betina bunting. Vaksinasi pada sapi betina diatas umur 4 bulan sedangkan vaksinasi tidak dilakukan pada sapi jantan karena dapat menurunkan fertilitas


f)             Pada daerah yang bebas brucellosis (seperti Bali dan Lombok) melakukan lalu lintas pada ternak secara ketat.

Wednesday, 15 April 2015

,

Contoh Sebuah Laporan Presentasi

Contoh Sebuah Laporan Presentasi



Laporan Presentasi


Hari,tanggal   : -
Pukul              : -
Judul              : -
Pemateri         : -
Moderator      : -
Penanya         : -


Pertanyaan pertama oleh Lailul Ansari

Pertanyaannya adalah “Jelaskan apa hubungan antara ketiga faktor sosial dalam pembelajaran bahasa kedua?
Jawabannya adalah “ Ada tiga faktor sosial yang mempengaruhi dalam pembelajaran bahasa kedua. Pertama, faktor sosial budaya; kedua sosial ekonomi; dan yang ketiga sosial pendidikan. Dimana budaya sosial itu mencakup kebiasan kelompok yang tinggal di kota dengan kebiasaan kelompok yang tinggal di desa itu berbeda. Orang kota secara garis besarnya itu mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi (menengah ke atas) sedangkan yang di desa itu tingkat ekonominya rendah (menengah ke bawah). Nah, sosial ekonomi di sini sangat berpengaruh bila mana seseorang itu hendak belajar bahasa kedua secara formal, dia pasti akan membutuhkan biaya untuk les, beli buku, beli kamus, dan lain sebagainya. Sedangkan yang ekonominya rendah, mereka tidak sanggup untuk itu. Untuk makan saja terkadang susah apalagi untuk membeli keperluan seperti itu. Begitu juga dengan tingkat sosial pendidikannya. Pendidikan yang harus berlanjut dan terus berlanjut setelah tamat sekolah dasar (SD), meraka akan melanjutkan ke SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Belum lagi halnya jka harus private. Jadi, hubungan antara tiga faktor ini sangatlah erat dan saling berhubungan.


Pertanyaan kedua oleh Lisanuddin

Pertanyaannya adalah “ Bagaimana pengaruh faktor sosial  budaya terhadap anak-anak?
Jawabannya adalah “ Sebagaimana kita ketahui bahwa budaya adalah kebiasaan. Sosial budaya berarti kebiasaan suatu kelompok. Nah, hal ini pada diri si anak sangat bergantung dengan siapa dia bergaul dan dimana dia tinggal. Jika pergaulannya hanya dengan anak-anak yang seumurannya yang mana mereka menggunakan bahasa daerah, itu artinya tidak akan berpengaruh apa-apa. Namun, lain halnya, jika ada salah seorang anak bergaul dengan kelompok yang menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, dia pasti akan mengikutinya baik itu terdorong karena motivasi dari dalam diri sendiri ataupun karena keadaan yang menuntutnya karena jika tidak dia tidak akan dapat berkomunikasi dengan yang lainnya.

Tambahan dari Ayu Puspa Nanda

“Salah satu contohnya adalah orang-orang yang tinggal di kota-kota besar ataupun pinggiran kota, misalnya Tanggerang. Saya sendiri merasakan bahwa pemerolehan bahasa daerah saya tidak maksimal dikarenakan penduduk yang dominan tinggal di Tanggerang bukan lagi suku asli sunda melainkan dari perpaduan semua budaya. Oleh karena itu pemerolehan bahasa pertama saya adalah bahasa Indonesia dan bahasa kedua adalah bahasa sunda dan bahasa Inggris.

Begitulah Contoh Laporan Presentasi
Pages: 1 2 3

Tuesday, 7 April 2015

, ,

Soal-soal tentang pengolahan sampah padat dan vector

Soal-soal tentang pengolahan sampah padat dan vector



      1.   Sebutkan beberapa sumber sumber smapah dalam kehidupan sehari-hari..!
Dari   Rumah Tangga, Daerah  Pemukiman, Daerah  Perdagangan, Daerah Industri, Daerah  Perternakan, Daerah   Pertanian, Daerah  Pertambangan Dan Dari  Daerah  Perkantoran   
     2.   Sebutkan jenis jenis sampah yang mudah membusuk dan tidak membusuk..!
Sampah yang mudah membusuk seperti potongan daging, sisa-sisa makanan, dedaunan dan buah-buahan, sedangkan sampah yang tidak membusuk seperti plastik, kaleng, karet, kertas mika dan seng-seng bekas.
     3.   Jelaskan pengertian sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan..!
Dalam ilmu kesehatan lingkungan sampah disebutkan  “refuse “ artinya adalah :  suatu yg tidak dipakai, tidak disenangi  dan harus  di  buang umumnya berasal dari rt  dan  industri.
     4.   Sebutkan Undang-undang yang mengatur tentang sampah..?
Undang-undang ri no. 18 tahun 2008, lembaran negara  no.69, tentang pengelolaan sampah. Ada 18 bab,  49 pasal
     5.   Sebutkan apa pengaruh sampah bagi kesehatan..!
Secara langsung sampah dapat menyebabkan cacingan dari sampah rumah tangga  apabila kontak langsung dengan sampah, dan menjadi tempat terjadinya penyakit-penyakit yang di hasilkan vektor-vektor pembawa penyakit seperti lalat dan tikus, karna sampah menjadi tempat berkembang biak.
     6.   Sebutkan apa pengaruh sampah terhadap lingkungan..!
Adapun pengaruh sampah terhadap lingkungan apabila pengelolaan sampah  yang kuraang saniter dapat merusak pandangan mata. Dan hasil dari pembakaraan sampah asapnya dapat  mengganggu pernapasan, penglihatan, dan penurunan kwalitas udara, dan dapat mengabitkan banjir apabila sampah menumpuk pada selokan.
     7.   Sebutkan apa pengaruh sampah terhadap social masyarakat..!
Pengelolaan sampah  yang kurang baik pada  suatu  masyarakat akan  mencerminkan status  keadaan  sosial di  daerah. Dan kemudian Dapat  menyebabkan keributan  antara yang membuang  sampah dengan yang  rumahnya dekat  dengan tpa. Akan sangat berdampak pada social masyarakat.
     8.   Sebutkan apa tujuan dari pada pengelolaan  sampah padat.!
Tujuannya adalah Untuk  mencegah terjadinya  penyakit, Konservasi  sumber daya  alam, kemudian untuk Mencegah  gangguan  estetika dan Memberi insentif  untuk  daur  ulang
    9.   Mengapa sampah sulit di kelola. Jelaskan..!
Karna Cepatnya  perkembangan tehnologie dari  pada  kemampuan masyarakat mengelola  sampah, Meningkatnya  tingkat  hidup masyarakat yang  tidak  disertai dengan  pengetahuan ttg  sampah, sulit  mendapatkan tempat  pembuangan  akhir sampah, Kurangnya  pengawasan dan pelaksanaan peraturan
     10.                Sebutkan penyakit-penyakit yang menjadi penyakit bawaan sampah..?
Bawaan dari lalat (Dysentri Basiler, Dysentri Amuba, Thypus  Abdominalis, Cholera, Ascariasis, Ancylostomiasis). Bawaan dari tikus (Pes, Rat Bit Fever), Keracunan (Metan, CO2, Dioxida, Logam berat),

    11.                Dalam pengelolaan sampah di bagi ke dalam 3 fase. Jelaskan fase-fase tersebut..!
fase  refuse  storage  yaitu  fase penyediaan dan pengumpulan, fase  refuse collection yaitu  fase pengumpulan dan pengangkutan, dan fase  refuse  disposal

     12.                Sebutkan syarat-syarat pada  container sampah..!
isi max 1  m 3, jangan dilakukan di dalam rumah, kontruksi  kuat dan tidak  bocor, mudah di bersihkan dan diangkat, bahan  kedap  air dan tahan  karat

     13.                Fase pengumpulan dan pengangkutan sampah ada 2 tipe. Sebutkan  tipe-tipe apa saja..!
Ada 2 tipe fase dalam pengumpulan sampah dan pengangkutan sampah yaitu Tipe terpisah dan tipe tercampur
    14.                Jelaskan apa yang di maksud dengan fase refuse storeg dalam pengelolaan sampah..!
Penyediaan  jumlah refuse  container, pemilihan dan  penyediaan  container yang  baik  dan  saniter , pemilihan  letak, perawatan dan  pemeliharaan  container 
      15.                Sebutkan criteria sampah berdasarkan zat kimia..?
Sampah organik  :  sisa   makanan,   kertas,  plastik  daun daunan, sampah  anorganik  :    logam, gelas  abu
    16.                Coba anda sebutkan sampah-sampah yang di hasilkaan dari buangan industry..!
Sampah dari buangan industry antara lain , Radio Aktif, bahan kimia yang toxit, sampah biologie, dan sampah yang mudah terbakar dan mudah meledak.
    17.                Sampah biologi, bahan kimia toxit dan radio aktif merupakan sampah kusus. Sebutkan dari pada penghasil sampah tersebut.
Sampah tersebut di hasilkan dari buangan industry dan buangan rumah sakit.
    18.                Jelaskan tentang fase refuse storage dalam peengelolaan sampah.!
dalam pengelolaan sampah, fase refuse storage merupakan fase yang sangat penting dan juga sulit dalam pengelolaan sampah, adapun yang menjadi penting adalah karna member pengaruh terhadap tinggi rendahnya kehidupan vector penyakit seperti lalat dan tikus. Dan yang menjadi sulit karna erat kaitannya dengan kehidupan individu.
    19.                Sebutkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh sampah dan dapat menimbulkan kematian..!
Adaput penyakit yang dapat menyebabkan kematian yang di hasilkan dari sampah adalah. Diare, disentri, cacingan,, malaria dan kaki gajah 
     20.                Sampah basah di identik dengan tempat bersarangnya dan berkembang biaknya vector seperti lalat, kecoa, nyamuk dan tikus. Coba anda jelaskan..
Karna,  lalat tertarik kepada tempat2 yang kotor yang basah yang memiliki sampah, karna pada sampah basah merupakan tempat berkembang biak dan sekaligus sebagai makanan, kemudian begitu juga dengan kecoa yang suka tempat2 lembab yang kotor dan baud an gelap, menjadi tempat berkembang biaknya pada celah celah sampah tersebut. Dan begitu juga dengan tikus yang suka dengan tempat2 gelap dan lembab untuk tempat persembunyiannya sekaligus tempat makanan baginya, lainya seperti nyamu kususnya nyamuk aides dan culex yang suka bersarang pada genangan air.


     21.                Jelaskan bagaimana hubungan sampah dengan penyakit DBD..!
DBD merupakan penyakit yang di sebabkan oleh nyamuk, yaiutu nyamuk aides. Dan nyamuk aides ini biasanya berkembang  biak pada sampah kalengm kantong plastic, pecahan gelas/botol yang menjadi tempat genangan air, tempat ini sangat di senangi oleh nyamuk aides sebagai tempaat berkembangnya.  Jjadi, sampah memilki hubungan erat sebagai terjadinya penyakit DBD karna nyamuk yang berkembang biak pada sampah.
   22.        Apakah dampaak negative dari sampah yang berlangsung secara anaerobic..?
Sampah yang berlangsung secara anaerobic dan berlangsung lama dalam pembusukannya seperti samapah-sampah plastic, pecahan kaca, dan karet dapat mencemari tanah sehingga dalam waktu lama ti dak dapat dijadikan tempat tanam menanam lagi (lahan kritis).
  23. Apa yang akan terjadi dari hasil proses pembusukan sampah yang menghasilkan gas-gas seperti CO2, H2S, CH4, dan NH3.!
Maka akan terjadi pencemaran udara oleh gas-gas tersebut dan menimbulkan bau tidak sedap, dan apabila di bakar maka pencemran udara lebih tinggi yang di sebabkan oleh gas CO2 dan CO.


Sunday, 29 March 2015

,

Pengertian Metode Pengembangan Dakwah

Metode Pengembangan Dakwah


           Dakwah merupakan suatu bagian integral dari ajaran agama Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Kewajiban ini tercermin dari konsep amar ma’ruf dan nahi munkar  yaitu sebuah perintah untuk mengajak masyarakat melakukan perilaku positif-konstruktif. Dan mengajak mereka untuk meninggalkan dari perilaku negative-destruktif.
            Kemudian, dakwah memiliki arti yang luas. Ia tidak hanya berarti mengajak dan menyeru umat manusia agar memeluk islam. Lebih dari itu dakwah juga berarti upaya membina masyarakat islam agar menjadi masyarakat yang lebih berkualitas yang di bina dengan Ruh Tauhid dan ketinggian nilai-nilai Islam.
            Tujuan dakwah agar Islam menjadi agama yang di anut dan diyakini oleh berbagai bangsa di seluruh pelosok dunia. Dan ini sudah dilakukan oleh para juru dakwah sejak zaman klasik sampai zaman sekarang.
            Penyebaran ajaran islam melalui kegiatan dakwah ini melahirkan wujud masyarakat Islam yang semakin luas. Dan masyarakat dapat memperoleh penerangan dan penjelasan mengenai ajaran dan norma hidup Islam melalu dakwah agar manusia dapat berjalan pada jalan kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat.
            Semakin luas penebaran dakwah ajaran islam, maka semakin luaslah kebutuhan manusia terhadap dakwah dan demikian pula sebaliknya. Islam tidak  mungkin hidup dan berkembang apabila  tanpa upaya-upaya dakwah  yang dilakukan oleh para juru dakwah, dan oleh karna itu pula ajaran Islam dak dakwah memiliki hub ungan yang sangat erat.
            Dalam pelaksanaanya. Tugas dakwah mirip dengan tugas kerasulan Muhammad saw, yang berusaha menyebarluaskan ajaran Islam untuk seluruh umat manusia secara universal. Kemudian bagaimanakah pelaksanaan dakwah di Indonesia yang mayoritas penduduknya disebut-sebut beragama Islam?. Secara lahiriah , kegiatan dakkwah di Indonesia semakin semarak dan menunjukkan tanda-tanda peningkatan sebagimana tercermin dari maraknya kegiatan-kegiatan majlis taklim, halaqah, tabligh akbar, ceramah agamadi media massa dan sebagainya. Dalam dakwah sebagaimana yang diketahui bahwa melalui dakwah orang-orang diaharapkan menjadi beriman apabila belum beriman, dan masuk kedalam islam, dan mereka yang sudah beriman akan semakin meningkatkan kualitas keimananya dalam islam. Harapan ini belum sepenuhnya berhasil karna  kenyataannya maraknya kegiatan tindakan criminal dan amoral dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan dakwah berlangsung.
            Kemudian, saat ini dakwah juga sedang berhadapan dengan tantangan yang di akibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menjanjikan kesejahteraan bagi umat manusia dan yang secara nyata bisa disaksikan buktinya di dunia, sementara para juru dakwah tidak dapat menunjukkan secara nyata janji-janji kesejahteraan dari pesan dakwahnya kecuali menunggu sampai datangnya hari akhirat. Sehingga para juru dakwah tidak mendapatkan respon positif dari pada masyarakat penerima dakwah tersebut.

            Dan karna perubahan yang begitu dinamis pada masyarakat, setiap juru dakwah  harus benar-benar melengkapi dirinya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebelum ia terjun berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Dan harus benar-benar memiliki rumusan strategi dan metode-metode yang sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang akan didakwahkan. Dan menuntut juru dakwah untuk memiliki daya kritis dan kreatifitas yag tinggi serta memiliki kemampuan dan kecerdasan yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dapat menyusun strategi dan metode dakwah sesuai dengan tingkat intlektualitas masyarakat yang di hadapinya.

Thursday, 19 March 2015

, ,

UUD dan Kebijakan-kebijakan tentang pengolahan sumber daya air

UUD dan KEBIJAKAN tentang SUMBER DAYA AIR



1.      UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanianindustrirumah tangga,rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air tawar.
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG SUMBER DAYA AIR.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1.      Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.
2.      Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
3.      Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
4.      Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya.
5.      Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

BAB II
WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB

1.      membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional;
2.      mengelola sumber daya air di wilayah desa yang belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau pemerintahan di atasnya dengan mempertimbangkan asas kemanfaatan umum;
3.      menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air yang menjadi kewenangannya;



BAB III
KONSERVASI SUMBER DAYA AIR

1.      Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air.
2.      Perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia.
3.      Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai.
4.      Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundangundangan.


BAB IV
PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR

1.      Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai.
2.      Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.
3.      Pendayagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat
4.      dikecualikan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.
5.      Pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan secara terpadu dan adil, baik antarsektor, antarwilayah maupun antarkelompok masyarakat dengan mendorong pola kerja sama.
6.      Pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan.

BAB V
PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR

Pasal 51
1.      Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan.
2.      Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air.
3.      Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat.
4.      Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat.

BAB VI
PERENCANAAN

Pasal 59
1.      Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun untuk menghasilkan rencana yang berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
2.      Perencanaan pengelolaan sumber daya air dilaksanakan berdasarkan asas pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.
3.      Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam.


2.      PERATURAN PEMERINTAH NO. 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
1.      Air adalah semua air yang terdapat didalam dan atau berasal dari sumber air, dan terdapat di atas permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini adalah air yang terdapat di bawah permukaan tanah dan air laut;
2.      Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
3.      Pengendalian adalah upaya pencegahan dan atau penanggulangan dan atau pemulihan.





BAB II
INVENTARISASI KUALITAS
DAN KUANTITAS AIR

1.      Gubernur Kepala daerah Tingkat I, menetapkan prioritas pelaksanaan inventarisasi kualitas dan kuantitas air.
2.      Data kualitas dan kuantitas air disusun dan didokumentasikan pada instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah.
3.      Data kualitas dan kuantitas air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diolah oleh instansi yang bersangkutan dan laporannya disampaikan kepada Menteri dan Gubernur Kepala daerah Tingkat I yang bersangkutan, sekurang kurangnya sekali dalam setahun.


BAB III
PENGGOLONGAN AIR

1)      Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan perluasan pemanfaatan air di luar penggolongan air sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ayat(1).
2)      Ketetapan tentang baku mutu air untuk golongan air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini.
3)      Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan penambahan parameter dan baku mutu untuk parameter tersebut dalam baku mutu air sebagaimana dalam ayat (1).









3.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya.

Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
1.      Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya;
2.      Beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah.


BAB II
PENGELOLAAN KUALITAS AIR
1.      Penetapan kelas air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 pada:
sumber air yang berada dalam dua atau lebih wilayah Propinsi dan atau merupakan lintas batas wilayah negara ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
a.       sumber air yang berada dalam dua atau lebih wilayah Kabupaten/Kota dapat diatur dengan Peraturan Daerah Propinsi.
b.      sumber air yang berada dalam wilayah Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

BAB III
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

Pasal 18
1.      Pemerintah melakukan pengendalian pencemaran air pada sumber air yang lintas propinsi dan atau lintas batas negara.
2.      Pemerintah Propinsi melakukan pengendalian pencemaran air pada sumber air yang lintas Kabupaten/Kota.
3.      Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan pengendalian pencemaran air pada sumber air yang berada pada Kabupaten/Kota.










4..PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR


Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelengaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
                

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan pemerintah ini yang di maksud dengan :
1.      Sumber daya air adalah, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.
2.      Kebijakan sumber daya air adalah arahan strategis dalam pengelolaan sumber daya air
3.      Pengunaan sumber daya air adalah pemangfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media dan/atau materi.
4.      Pengusahaan sumber daya air adalah upaya pemangfaatan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan usaha.

BAB II
LANDASAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
Pasal 4
1.      Pengelolaan sumber daya air diselengarakan dengan berlandaskan pada:
a.       Kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota
b.      Wilayah sungai dan cekungan air tanah yang di tetapkan:dan,
c.       Pola pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai.

Pasal 5
Kebijakan pengelolaan sumber daya air mencakup aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, dan system informasi sumber daya air yang disusun dengan memperhatikan kondisi wilayah masing-masing.

Pasal 7
1.      Kebijakan nasional sumber daya air sebagai mana di maksud dalam pasal 6 ayat (1) menjadi acuan bagi :
a.       Menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen dalam menetapkan kebijakan sektoral yang terkait dengan bidang sumber daya air, dan
b.      Penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi
2.      Kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi sebagaimana dimaksud paday ayat (1) huruf b menjadi acuan penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat kabupaten atau kota.

Pasal 14
1.      Pola pengeolaan sumber daya air disusun dan ditetapkan berdasarkan rancangan pola pengelolaan sumber daya air
2.      Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan kerangka dasar dalam pengelolaan sumber daya air diwilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah serta keseimbangan antara upaya konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air.






BAB III
PERENCANAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
Pasal 24
1.      Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang di tetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarasi sumber daya air, penyusunan, dan penetapan rencana pengelolaan sumber daya air.

Pasal 25
1.      Inventarisasi sumber daya air sebagaimana di maksud dalam pasal 24 di tunjukan untuk mengumpulan data dan informasi sumber daya air sebagai dasar penyusunan rencana pengelolaan sumber daya air.

Pasal 26
1.      Rancangan  rencana pengelolaan sumber daya air disusun secara terpadu pada setiap wilayah sungai berdasarkan strategi pengelolaan sumber daya air yang dipilih dari artenatif strategi yang terdapat dalam pola pengelolaan sumber daya air
2.      Strategi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan strategi yang dipilih oleh wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.
3.      Rancangan rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana di maksud pada ayat (1) disusun dengan mempertimbangkan pengunaan dan ketersedian air tanahdalam cakungan air tanah pada wilayah sungai dengan tatap mengutamakan pengunaan air permukaan.

Pasal 43
1.      Pelaksanaan operasi dan pemiliharaan sumber daya air terdiri atas :
a.       Pemiliharaan sumbe rdaya air
b.      Operasi dan pemiliharaan prasarana sumber daya air

BAB V
KONSERVASI
Pasal 49
1.      Konservasi sumber daya air ditunjukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan, daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air
2.      Untuk mencapai tujuan konservasi sumber daya air sebagaimana di maksud pada ayat (1) dilakukan kegiatan:
a.       Perlingdungan dan pelestarian sumber air
b.      Pengawetan air
c.       Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air

Pasal 52
1.      Pengendaliam pemanfaatan sumber daya air dilakukan sesuai dengan ketentuan pemanfaatan zona pada sumber air yang bersangkutan.
2.      Pengendalian pemanfaatan sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemantauan dan pengawasan bersasarkan ketentuan pemanfaatan zona pada sumber air yg bersangkutan.

BAB VI
PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR
Pasal 65
Pendayagunaa sumber daya air mencakup kegiatan :
a.       Penatagunaan sumber daya air yg di tujukan untuk menetapkan  zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air;
b.      Penyediaan sumber daya air;
c.       Penggunaan sumber daya air;
d.      Pengembangan sumber daya air; dan
e.       Pengusahaan sumber daya air.






5.PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2008  TENTANG DEWAN SUMBER DAYA AIR.


BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:
1.      Dewan sumber daya air adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air yang meliputi Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain, dan dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain.
2.      Dewan Sumber Daya Air Nasional yang selanjutnya disebut Dewan SDA Nasional adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air tingkat nasional.
3.      Dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain yang selanjutnya disebut dewan sumber daya air provinsi adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air tingkat provinsi.
4.      Dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain yang selanjutnya disebut dewan sumber daya air kabupaten/kota adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air tingkat kabupaten/kota.
5.      Menteri adalah menteri yang membidangi sumber daya air.
6.      Kebijakan Nasional Sumber Daya Air adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah untuk mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air.
7.      Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
8.      Unsur-unsur pemerintah adalah wakil-wakil instansi Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.
9.      Unsurunsur non pemerintah adalah wakil-wakil yang berasal dari kelompok pengguna dan pengusaha sumber daya air serta lembaga masyarakat adat dan lembaga masyarakat pelestari lingkungan sumber daya air.


BAB II
PEMBENTUKAN

Pasal 2
1.      Untuk melaksanakan koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional, dibentuk Dewan SDA Nasional.
2.      Pembentukan Dewan SDA Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Pasal 3
1.      Untuk melaksanakan koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi, dibentuk dewan sumber daya air provinsi.
2.      Pembentukan dewan sumber daya air provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan gubernur.

Pasal 4
1.      Untuk melaksanakan koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat kabupaten/kota, dapat dibentuk dewan sumber daya air kabupaten/kota.
2.      Pembentukan dewan sumber daya air kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota.

BAB III
KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI
Bagian Kesatu
Dewan SDA Nasional

Pasal 5
1.      Dewan SDA Nasional berkedudukan di ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.      Dewan SDA Nasional bersifat nonstruktural, berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Pasal 6
Dewan SDA Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 mempunyai tugas membantu Presiden dalam:
a.       menyusun dan merumuskan kebijakan nasional serta strategi pengelolaan sumber daya air;
b.      memberikan pertimbangan untuk penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah;
c.       memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tindak lanjut penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah, serta pengusulan perubahan penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah; dan
d.      menyusun dan merumuskan kebijakan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi pada tingkat nasional.



BAB IV
HUBUNGAN KERJA ANTARDEWAN SUMBER DAYA AIR

Pasal 40
1.      Hubungan kerja antara Dewan SDA Nasional, dewan sumber daya air provinsi, dewan sumber daya air kabupaten/kota bersifat koordinatif dan konsultatif.
2.      Hubungan kerja yang bersifat koordinatif dan konsultatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi urusan antarwilayah administratif, antarkepentingan antarsektor, atau urusan kepentingan nasional.
3.      Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Dewan SDA Nasional dapat meminta masukan dari dewan sumber daya air provinsi dan/atau dewan sumber daya air kabupaten/kota.
4.      Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 14, dewan sumber daya air provinsi dan/atau dewan sumber daya air kabupaten/kota dapat meminta pertimbangan Dewan SDA Nasional.

BAB V
PEMBIAYAAN

Pasal 41
1.      Pembiayaan operasional Dewan SDA Nasional dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2.      Pembiayaan operasional Dewan Sumber Daya Air Provinsi dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi.
3.      Pembiayaan operasional Dewan Sumber Daya Air kabupaten/kota dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 42
1.      Sebelum Dewan SDA Nasional terbentuk, pelaksanaan tugas dan fungsi koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional diselenggarakan oleh Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) sebagaimana dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002.
2.      Pelaksanaan tugas dan fungsi TKPSDA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan penyusunan dan perumusan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan mengikutsertakan wakil masyarakat yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air.




Pasal 43
1.      Sebelum dewan sumber daya air provinsi atau dewan sumber daya air kabupaten/kota terbentuk sesuai dengan Peraturan Presiden ini, pelaksanaan tugas dan fungsi koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi atau kabupaten/kota diselenggarakan oleh Panitia Tata Pengaturan Air atau wadah koordinasi lain.
2.      Pelaksanaan tugas dan fungsi Panitia Tata Pengaturan Air atau wadah koordinasi lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan penyusunan dan perumusan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan mengikutsertakan wakil masyarakat yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air.
3.      Peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan Panitia Tata Pengaturan Air atau wadah koordinasi lainnya pada tingkat provinsi atau kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan paling lambat 2 (dua) tahun setelah Peraturan Presiden ini ditetapkan.


6..PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI, DAN HIDROGEOLOGI PADA TINGKAT NASIONAL

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIJAKAN PENGELOLAAN SISTEM
INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI, DAN HIDROGEOLOGI PADA TINGKAT NASIONAL.
Pasal 1
(1) Menetapkan Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi pada Tingkat Nasional.
(2) Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi pada Tingkat Nasional menjadi arahan strategis pengelolaan data dan informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi sampal dengan tahun 2030.
(3) Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi pada Tingkat Nasional adalah arahan strategis untuk mendukung pengelolaan sistem informasi sumber daya air, yang terdiri dari:

a. Kebijakan Pengembangan Kelembagaan;
b. Kebijakan Peningkatan Tatalaksana;
c. Kebijakan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;
d. Kebijakan Pembiayaan; dan
e. Kebijakan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha.
(4) Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi, se bagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.
Pasal 2
Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, berfungsi sebagai acuan bagi:
a. menteri atau kepala lembaga pemerintah non kementerian yang membidangi sumber daya air dalam menetapkan kebijakan pengelolaan informasi kondisi hidrologis sesuai kewenangannya;
b. menteri atau kepala lembaga pemerintah non kementerian yang membidangi meteorologi, klimatologi, dan geofisika, dalam menetapkan kebijakan pengelolaan informasi kondisi hidrometeorologis sesuai kewenangannya; dan
c. menteri atau kepala lembaga pemerintah non kementerian yang membidangi air tanah, dalam menetapkan kebijakan pengelolaan informasi kondisi hidrogeologis sesuai kewenangannya.
Pasal 3
Rincian program pelaksanaan Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Dewan Sumber Daya Air Nasional.
Pasal 4
Dewan Sumber Daya Air Nasional melakukan pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi.



7.
 
 








7..PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM DENGAN RAHMAD TUHAN YANG MAHA ESA

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
 NOMOR 492/ MENKES/PER/IV/2010 TENTANG PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM.
         Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :
1.      Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tampa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum.
2.      Penyelenggara air minum adalah badan usaha milik Negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat dan/atau individual yang melakukan penyelengaraan penyedian air minum.
Pasal 2
Setiap penyelengara air minum wajib menjamin air minum yang diproduksinya aman bagi kesehatan.
Pasal 4
1.      Untuk menjaga kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat dilakukan pengawasan kualitas air minum secara eksternal dan secara internal.
2.      Pengawasan kualitas air minum secara eksternal merupakan pengawasan yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/ kota atau oleh PKIP khusus untuk wilayah KKP.



Pasal 5
Menteri kepala BPOM, kepala dinas kesehatan propinsi dan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan ini sesui dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Pasal 8
Pada saat ditetapkanya peraturan ini, maka keputusan menteri kesehatan nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum sepanjang mengenai persyaratan kualitas air minum dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

8..QANUN GUBERNUR NO 162 TAHUN 2012 TENTANG ARAHAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

MEMUTUSKAN:
PERATURAN GUBERNUR TENTANG ARAH, KEBIJAKAN DAN
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal1
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan :
1. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, meJaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air.
2. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air di Daerah.
3. Strategi adalah langkah-Iangkah yang berisi program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.
4. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi -satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD/UKPD terkait untuk mencapai saran dan tujuan.



Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
(1) Penyusunan Peraturan Gubernur ini dimaksudkan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air secara adil, optimum, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan untuk kesejahleraan masyarakat di Daerah.
(2) Tujuannya adalah untuk :
a. meningkalkan upaya konservasi sumber daya air secara terus menerus;
b. mendayagunakan sumber daya air untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakal melalui pengendalian dan pengurangan daya rusak air dan kerusakan badan-badan air;
c. meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air di Daerah dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan berbagai potensi sumber daya (i1mu pengelahuan, teknologi dan kearifan lokal), membangun jaringan sislem informasi sumber daya air Daerah yang terpadu antar sektor, pengembangan kelembagaan dan peningkatan kapasilas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan;
d. sebagai acuan dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi pengelolaan sumber daya air di Daerah; dan
e. mengembangkan sumber-sumber pembiayaan lainnya di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik dari dalam maupun luar negeri.



BAB II
ARAH, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Pasal 3
Arah pengelolaan sumber daya air meliputi :
a. pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terpadu, khususnya mengenai konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air;
b. konservasi sumber daya air lebih mengutamakan pendekatan non struktur;
C. pendayagunaan sumber daya air lebih mengutamakan penggunaan sumber air permukaan, air hujan, air bekas yang di daur ulang dan air laut (desalinasi) dalam rangka untuk memperba.iki dan meningkatkan ketahanan air di Daerah;
d. meminimalkan penggunaan air tanah dalam dan air tanah dangkal yang digunakan tanpa melalui konservasi;
e. mengendalikan daya rusak air (daya air yang dapat merugikan kehidupan) dan lebih mengutamakan kegiatan mitigasi, adaptasi dan pengendalian kerusakan badan-badan air; dan
f. meningkatkan peran serta warga masyarakat, khususnya dunia usaha melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Pasal 4
(1) Kebijakan dalam pengelolaan sumber daya air dipaerah meliputi :
a. kebijakan umum;
b. kebijakan peningkatan konseryasi sumber daya air secara terus menerus;
c. kebijakan pendayagunaan sumber daya air untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat;
d. kebijakan pengendalian daya rusak air, kerusakan badan-badan air dan pengurangan dampaknya;
e. kebijakan peningkatan peran serta warga masyarakat, khususnya kalangan dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya air;
f. kebijakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan kearifan lokal dalam upaya pengelolaan sumber daya air di Daerah;
g. kebijakan dalam pengembangan dan pemanfaatan jaringan sistem informasi untuk pengelolaan sumber daya air yang terpadu antar sektor; dan
h. kebijakan pengembangan kelembagaan dan peningkatan kapasitas sumber day? manusia serta diversifikasi sumbersumber pembiayaan lainnya di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

(2) Untuk mengimplementasikan kebijakan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diikuti dengan strategi pengelolaan sumber daya air dimaksud.
(3) Kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Gubernur ini.
Pasal 5
(1) Untuk terlaksananya kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, maka akan ditindaklanjuti oleh SKPD/UKPD terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya, yang selanjutnya dituangkan dalam Rencana Strategi Daerah sebagai bagian dari Rencana Program Jangka Menengah Daerah.
(2) Kebijakan dan strategi pengelolaan sumber d&lya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan arahan strategis dalam pengelolaan SDA di Daerah periode 2010-2030.
(3) Dalam rangka optimalisasi pengelolaan, sumber ·ij.aya air selanjutnya, maka kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan penyesuaian sesuai dengan dinamika masyarakat dan kebijakan yang akan diterbitkan kemudian.

BAB III
PENGENDALIAN

Pasal6
(1) Pengendalian terhadap 'pelaksanaan kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan oleh masing-masing Kepala SKPD/UKPD terkait.
(2) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala SKPD/UKPD dapat mengoordinasikannya dengan instansi terkait dan pemangku kepentingan lainnya sesuai batas kewenangannya.
(3) Untuk kelancaran pelaksanaan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka sebagai penanggung jawab koordinasi dilakukan oleh Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup.
BAB IV
PEMBIAYAAN

Pasal 7
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan arah, kebijakan dan strategi dalam pengelolaan sumber daya air di Daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sumber-sumber pembiayaan lainnya yang sah sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

BAB V
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 8
Peraturan Gubernur ini mulai be, rlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.














Soal soal :
1.       Bagaimana konservasi yang baik dalam upaya menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung dan fungsi sumber daya air.?
2.       Apa yang perlu di lakukan dalam hal pengendalian pencemaran air yang baik.?
3.       bagaimana cara menanggulangi bahan pencemar yang terkanudng dalam air.?
4.       Bagaimana penggunaan sumber air yang baik sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pengelolaan sumber daya air.?
5.       siapakah yang melaksanakan koordinasi pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional.?
6.       apasaja kebijakan kebijakan yang mendukung dalam hal pengelolaan sistem informasi sumber daya air.?
7.       apasaja yang termasuk kedalam penyelenggara air minum dalam hal persyaratan kualitasnya.?
8.       apasaja tujuan dari peraturan gurbernur tentang arah, kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air.?